Kamis, 23 April 2009

CHANGE Or DIE!


(Disampaikan sebagai topic program “Just Ronal Hutagalung” di Go Radio, Tanggal 24 April 2009 pukul 21.00-23.00)


Seekor Elang dewasa terbang berputar-putar dengan sangat eloknya di atas sebuah padang rumput. Sorot matanya menatap dengan tajam ke arah seekor kelinci putih yang berada tepat di bawahnya. Rasa lapar yang menggerogoti perut tidak memaksanya untuk bertindak ceroboh. dengan penuh kehati-hatian dia menunggu saat yang tepat untuk menjemput makan siangnya.
setelah terbang berputar-putar beberapa kali dan merasa siap untuk menangkap si kelinci, dengan sayap yang terbuka lebar dan cakar yang tajam Elang inipun segera menukik tajam kearah si kelinci dan berhasil menyergap serta mencengkeram erat si kelinci. Perasaan senang segera mengalahkan bunyi keroncong dari perutnya.


Setelah bernafas lega, Elang inipun segera bersiap untuk terbang membawa makan siang untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya yang sedang menunggu di dalam sarang. Namun sayang, saat membawa mangsanya terbang. tiba-tiba, Brukkk. Kelinci tersebut jatuh terlepas dari cengkraman dan berlari terbirit-birit masuk kedalam hutan.


Tidak dapat lagi melihat mangsanya, Elang inipun kembali terbang ke puncak pohon tempat ia tinggal bersama dengan anak-anaknya. tentunya dengan perasaan kecewa dan rasa sakit diperut karena menahan lapar.


Kejadian yang dialaminya hari ini adalah kejadian yang sudah kesekian kalinya terjadi. sudah berminggu-minggu dia gagal menangkap mangsa dan mengalami kelaparan panjang.


Di usianya yang memasuki 40 tahun, banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. bulunya yang sangat lebat menjadikan gerakan terbangnya menjadi semakin lambat dan tidak dapat terbang tinggi. Kuku-kuku yang berada di ujung cakarnya sudah menua sehingga sangat menyulitkan ketika digunakan untuk mencengkram. demikian juga dengan paruhnya yang dulu tajam, sekarang tidak mampu lagi menangkap mangsa karena kepanjangan dan bengkok kedalam hingga hampir menyentuh dada.


Menghadapi kenyataan ini, hanya ada dua pilihan berat yang harus dipilihnya. Mati kelaparan atau menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Proses ini mengharusnya ia terbang ke atas puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan. Pertama-tama, Elang harus menghantamkan paruhnya berkali-kali pada sebuah batu keras sampai terlepas dari mulutnya. Setelah paruhnya terlepas, sang Elang harus menunggu sampai paruh barunya tumbuh kembali.


Proses kedua adalah sang Elang harus mencabut satu per satu cakarnya yang menua untuk membiarkan tumbuhnya cakar yang baru. Proses terakhir adalah mencabuti satu per satu bulu di sekujur tubuhnya. Inilah proses yang panjang dan menyakitkan yang harus dijalaninya selama lima bulan.


Seekor Elang dewasa dapat hidup hingga usia 70 tahun. Saat memasuki usia 40 tahun Elang harus melakukan proses perubahan ini. Sebuah proses yang sangat menyakitkan namun memberikan sebuah harapan hidup baru, hingga 30 tahun lamanya.


Sebagaimana seekor Elang, manusiapun setiap harinya mengalami perubahan. Perubahan yang dengan sengaja kita niatkan dan lakukan, maupun perubahan yang diakibatkan oleh perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Perubahan merupakan sesuatu yang mutlak dalam kehidupan ini. Seorang pelatih sukses dan penulis buku best seller, Brian Tracy, berkata bahwa “Setiap harinya manusia berubah, jika tidak berubah menjadi lebih baik maka sudah pasti berubah menjadi lebih buruk”.


Sebuah hal yang mustahil bagi kita untuk menghindari perubahan. perubahan merupakan cara alam untuk menyeleksi seberapa pantas kita dapat hidup dengan baik. Seberapa pantas kita dapat tetap bertahan dalam sebuah pertandingan. Serta seberapa pantas kita untuk merasa bangga atau untuk dibanggakan.


Ingatkah Anda ketika awal kemunculannya, Band ST 12 hadir dengan nuansa musik beraliran Pop. Saat itu mereka harus bersaing dengan band-band yang telah lebih dulu ada dan memiliki begitu banyak fans seperti Sheila On Seven, Peter Pan, Naff, dan senior mereka Gigi. Sebuah tantangan yang sangat berat bagi sebuah band baru. hal ini pun menjadi semakin sulit dengan membanjirnya band-band baru yang juga beraliran yang sama. Akibatnya, impianpun masih jauh dari kenyataan.


Menghadapi lingkungan musik yang mengalami perubahan, yaitu menjadi jenuh dengan band-band aliran pop. Hanya ada dua pilihan berat bagi ST 12, yaitu bertahan dengan music popnya atau melakukan perubahan. Ke dua pilihan ini memiliki konseskuensi atau resiko berat. Jika ST 12 tetap bertahan dengan aliran popnya, secara pasti mereka akan kalah bersaing dan MATI. Jika mereka memilih untuk berubah, mereka harus siap dengan segala konsekuensi yang terjadi selama proses perubahan.


Setiap perubahan mengharuskan agennya untuk melakukan perpindahan dari area nyaman (comfort zone) ke area yang tidak nyaman (uncomfort zone). Sebuah proses yang senantiasa disertai oleh rasa takut, rasa cemas, rasa sakit, dan terkadang putus asa.


Karena keputusan band ST 12 untuk memilih BERUBAH dan bukan memilih MATI, mereka berhasil menjadi jawara di belantika music Indonesia. Mereka merubah aliran musiknya dari sekedar Pop menjadi Pop Melayu. Album mereka yang berjudul PUSPA berhasil meraih berbagai macam penghargaan. Menariknya, mereka berhasil berubah menjadi juara dengan salah satu single lagu di albumnya yang berjudul “Jangan Pernah Berubah”. Hingga saat artikel ini di tulis lagu tersebut masih bertengger di berbagai chart music popular.


Dalam konteks bisnis, keputusan untuk berubah telah menyelamatkan perusahaan dari kematian. salah satu contohnya adalah PT. Telkom. Sebagaimana perusahaan BUMN lainnya pada masa itu, hingga tahun 1988 Perumtel memiliki begitu banyak masalah. Komplain konsumen terhadap buruknya pelayanan hampir setiap saat menghiasai menghiasi media massa. Sementara saat itu jumlah karyawannya mencapai 46 ribu orang dengan 900 ribu satuan sambungan. Jika dihitung-hitung, itu sama artinya setiap karyawan hanya melayani kurang dari 20 sambungan telepon.


Menghadapi kondisi ini, Perumtel harus segera memilih untuk BERUBAH atau MATI. Akhirnya diputuskanlah untuk berubah dan menunjuk Ir. Cacuk Sudariyanto sebagai kapten kapalnya. Cacuk akhirnya menemukan tiga masalah fundamental yang harus segera dibenahi, yaitu aspek financial, laporan keuangan, dan SDM perusahaan. Perubahan pun segera dilakukan dengan membenahi ke tiga aspek tersebut. Singkat cerita, dalam masa kepemimpinan Cacuk yang relative singkat (1988- 1992) PT. Telkom telah memiliki 3,5 juta satuan sambungan dengan kualitas pelayanan yang jauh lebih baik.


Hingga saat ini PT. Telkom masih terus melakukan perubahan. Jika tidak BERUBAH, tentunya harus bersiap untuk MATI. Lingkungan saat ini berubah dengan sangat cepat mengikuti perkembangan jaman. Kecepatan dan fleksibilitas menjadi hal yang penting. Akses Internet menjadi sebuah kebutuhan baru. Hadirnya teknologi seluler menjadikan masyarakat lebih menyukai menggunakan handphone GSM ataupun CDMA sebagai alat komunikasinya. Anda tentu sudah tahu inovasi apa yang dilakukan PT. Telkom dalam menyikapi perubahan ini.


Bagaimana dengan kehidupan sehari-hari? Setiap keputusan yang pernah kita ambil maupun lingkungan saat ini telah menjadikan hidup kita berubah. Jika kemarin Anda sakit kemudian hari ini sehat, Artinya Anda berubah menjadi lebih baik. Jika Anda kemarin pesimis dan kemudian hari ini merasa optimis, artinya Anda berubah menjadi lebih baik. Namun jika kemarin Anda merasa bahagia dan hari ini merasa sedih, artinya anda berubah menjadi tidak baik.


Bagaiman kondisi tubuh, pikiran dan perasaan yang kita jalani saat ini merupakan pencerminan kearah mana hidup kita sedang berubah. Jika tubuh, pikiran dan perasaan Anda positif, itu berarti Anda sedang berada di jalur rel yang tepat dan membawa Anda pada kehidupan yang lebih baik. Anda memilih untuk BERUBAH menjadi lebih baik.


Namun jika saat ini tubuh, pikiran dan perasaan Anda negative, Anda tentu tahu kemana ujung dari perjalanan Anda. Dengan tetap membiarkan kondisi tersebut berlarut-larut, artinya Anda telah memutuskan untuk tidak BERUBAH. Anda memilih untuk MATI!


Salam Smart


NB : Anda memang tidak dapat menghindari perubahan dalam hidup. Karena itu saya siap membantu Anda serta selalu berdoa dan berharap agar perubahan apapun dalam hidup Anda senantiasa menuju pada kebaikan. Mari kita pastikan bersama bahwa hidup Anda berubah menjadi lebih baik dari hari kehari.

Sabtu, 22 November 2008

Mengenal NEURO LINGUISTIC PROGRAMMING

Pada akhir bulan Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti 7 Days Lisenced NLP Practitioner approved by The Society Of NLP and Dr. Richard Bandler dari Orlando USA. training ini hanya di ikuti oleh 30 orang yang sebagian besar merupakan trainer, konsultan, dan terapis. dari 30 peserta yang hadir, sembilan puluh persennya berasal dari pulau jawa, dua orang dari sumatera, dan saya sendiri sebagai satu-satunya yang mewakili Indonesia timur (Kalimantan, Sulawesi hingga Irian Jaya).
Saat sessi perkenalan, sebagian besar tersontak kaget ketika saya memperkenalkan nama dan tempat asal saya yaitu Gorontalo. berbagai pertanyaan pun bermunculan, mulai dari apa alasan saya mengikuti training ini? dari mana saya mendapatkan informasinya? hingga pertanyaan apakah investasi untuk ikut pelatihan ini berasal dari perusahaan tempat saya bekerja atau ikut dengan biaya sendiri? pertanyaan terakhir sebenarnya cukup mengagetkan saya, namun akhirnya saya pun tersadar bahwa hal itu bisa dimaklumi mengingat besar investasi training tersebut setara dengan harga sebuah motor jepang di luar dari biaya transportasi dan akomodasi selama training.
Apa sih NLP itu? apa manfaat NLP bagi kehidupan kita? bisa jadi itu adalah beberapa pertanyaan yang tersirat di kepala anda saat membaca judul di atas. NLP atau Neuro Linguistic Programming adalah Manual for the Brain, atau The Psychology of Excellence. jika didefinisikan setiap kata maka diperoleh pengertian berupa:

Neuro, Mengacu ke sistem syaraf kita, corong penghubung lima indra kita (indra melihat, mendengar, merasa, mencium, dan meraba)

Linguistic, Kemampuan alami berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Verbal mengacu pada pilihan-pilihan kata dan frase, mencerminkan dunia mentalitas kita. Nonverbal berkaitan dengan “bahasa sunyi” seperti postur, gerak-gerik, dan tingkah laku. “Bahasa sunyi “ melahirkan gaya berpikir dan kepercayaan.

Programming, mengacu pada pola berpikir, perasaan, dan tindakan kita. perilaku dan kebiasaan keseharian ini dapat diganti dengan perilaku dan kebiasaan yang lebih positif.

NLP merupakan ilmu yang membuka kunci rahasia dari cara kerja otak sehingga orang yang mempelajarinya menjadi tuan atas pikirannya sendiri. Dengan NLP seseorang dimungkinkan dapat melakukan perubahan nyata secara menyenangkan , cepat, dan self utilized. NLP merupakan bidang ilmu yang sangat powerfull di terapkan dibidang business, management, coaching & counseling, marketing & sales, persuasion, therapy, health, sport, counsulting, training/education, parenting, sex, law professionals, dan lain-lain.
Di lihat dari sejarahnya, NLP bermula dari ketertarikan seorang Richard Bandler pada ilmu psikologi. sekitar tahun 1970-an Richard Bandler lulus dari Universitas California Santa Cruz sebagai sarjana matematika. dia banyakmenghabiskan waktunya bergelut dengan kerumitan ilmu komputer dan fisika. tak heran banyak yang menjulukinya “anak ajaib”di bidang komputerisasi. Terilhami sahabat-sahabatnya, dari keluarga terapi terkenal seperti Milton Ericson, Virginia Satir, Frits Perls, ia terdorong untuk mempelajari psikologi. ia menemukan bahwa ketiga ahli terapi tersebut telah menemukan kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menghasilkan prestasi luar biasa.

setelah mempelajari pola-pola tingkah laku yang dibuat mereka, bandler mencoba membuat modelnya. Dia menjiplak strategi-trategi pribadi dan tingkah laku, lalu mencobanya pada beberapa orang lain. Hasilnya sangat memuaskan.

Tidak lama kemudian dia bertemu dengan Dr. John Grinder, seorang Profesor Linguistik. Grinder memiliki latar belakang keilmuan seperti Bandler. Dia memperoleh gelar Ph.d linguistik spesialis teori-teori linguistik Noam Chomsky, seorang ahli bahasa amerika yang tersohor. Keahlian Grinder sangat menonjol dalam berasimilasi dengan bahasa-bahasa, menelaah aksen-aksen, dan membuat model perilaku budaya penutur bahasa tertentu dengan cepat dan tepat. kemampuannya semakin terasah setelah bergabung dengan misi pasukan keamanan Amerika di Eropa era 1960-an. Saat perang dingin memanas, Grinder memfokuskan penelitiannya untuk membuka “tata bahasa tersembunyi” dari setiap gerakan dan pemikiran.

berdasarkan kesamaan minat, Bandler dan Grinder memutuskan untuk mensinergikan keahlian mereka di bidang komputerisasi, linguistik, dan kemampuan luar biasa mereka dal;am membuat model perilaku non verbal manusia. Mereka menciptakan “bahasa perubahan “ yang baru. penelitian mereka meruncing pada studi “pembentukan Manusia Sempurna”. teori-teori yang mendasarinya diperoleh setelah melakukan studi mendalam terhadap pemikiran tiga tokoh ternama . pertama, Virginia Satir, ahli terapi yang terkenal berhasil menyelamatkan sejumlah rumah tangga di ambang perceraian. Kedua seorang filosof dan ahli antropologi Inggris- Gregory Bateson. Ia lah penggagas “Cara berpikir Semantik”, proses beruntun pikiran sadar dan pikiran bawah sadar dalam membuat keputusan. Terakhir, Dr Milton Erickson, pendiri masyarakat Hipnose untuk kesehatan di Amerika. Ia dijuluki “Sang Penyembuh” setelah berhasil menunjukkan prestasi luar biasa melampaui cacat mental dan fisik yang dideritanya.

Bandler dan Grinder mengakhiri observasi mereka pada penelitian Dr. Fritz Perls, Pendiri lembaga terapi Gestalt. Setelah melewati sejumlah observasi dan penelitian, mereka yakin telah menemukan cara memahami dan mewujudkan bagian terbaik dari diri manusia. selama beberapa waktu, mereka memberikan kuliah-kuliah tentang topik ini dan mendapatkan sambutan antusian. Lalu bersama-sama mereka mendirikan perusahaan NLP pertama yang dikenal sebagai masyarakat pembelajar NLP (NLP Society)

Salah satu murid terbaik dari Dr. Richard Bandler dan John Grinder adalah Anthony Robbins. Melalui training motivasi yang diadakannya, Anthony Robbins memperkenalkan NLP kepada masyarakat umum. berbagai teknik NLP digunakannya untuk men-terapi para peserta trainingnya sehingga mampu melakukan perubahan positif secepat mungkin. Anthony Robbins juga memberikan coach langsung secara pribadi kepada orang-orang besar seperti Nelson Mandela, Lady Diana, Bill Clinthon, Michael Corbacev, dan Andre agassi. saat ini Anthony Robbins dikenal sebagai Pelatih Sukses Nomor Satu di Dunia.

Jumat, 31 Oktober 2008

Terapi Musik di SONORA FM

















Ternyata sungguh dahsyat ketika kita memiliki perasaan berkelimpahan. sebagaimana yang di jelaskan dalam Law of Attraction, ketika kita merasa berkelimpahan maka rasa berkelimpahan tersebut akan mengundang dan mendatangkan keberlimpahan yang banyak dan lebih banyak lagi.

Salah satu hal yang bagi saya merupakan sebuah bagian dari keberlimpahan tersebut adalah ketika ikut menemani Pak Krishnamurti (Mindset Motivator) siaran Program "Terapi Musik" di Radio SONORA FM. Sangat sederhana.

Sudahkah Anda merasa berkelimpahan?

Salam Berkelimpahan





Silaturahim para Trainer

 














Saat berada di Jakarta untuk mengikuti Transformational Teaching Workshop saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk dapat bersilaturahim dengan para trainer muda Indonesia. 

Bertempat di Hotel Maxim, Saya (Ronal Hutagalung), Markus Tan (Founder BEST CAMP), Dr. A Fadly Noor (Brain Klinik), Yumei Sulistyo, Rudy Lim (Youngs Enterprise), dan Irwan (Mr. SGM) saling sharing berbagai macam hal terkait dengan dunia pelatihan khususnya di Indonesia.

Pertemuan ini adalah pertemuan yang pertama kali dilakukan. berawal dari sekedar saling sapa melalui email dan milist, kemudian saling sms tentang posisi keberadaan hingga akhirnya janjian ketemuan. Ketika bertemu. mirip sepasang sejoli yang sudah sangat lama kenal dan saling merindukan. Hehe... Aneh ya?

Salam Berkelimpahan



Transformational Teaching

LUAR BIASA... Itulah kesan saya ketika menghadiri Transformational Teaching Workshop bersama Adam Khoo dan Gery Lee dari Adam Khoo Learning Technology Group (Singapore) pada tanggal 22-23 Oktober 2008. Trainingnya berjalan dengan penuh dinamis dan menyenangkan.

Hal menarik lainnya dari workshop tersebut adalah meski di laksanakan di Indonesia, 80 % dari peserta berkewarga-negaraan asing seperti Philipina, Malaysia, India, Inggris, bahkan dari Singapore tempat Adam Khoo berasal.

Materi yang disampaikan meliputi :
#1 Personal Mastery for Peak Performance
#2 Brain-Based Teaching for Accelerated Learning
#3 Charisma & Communication Mastery using NLP


Sungguh sangat inspiratif untuk dapat membantu perubahan bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Salam SMART

Senin, 15 September 2008

MINDSET : GELAR OH GELAR

” Pak andi...pak Andi...” panggil seorang warga kepada tetangganya. meski dipanggil berulang-ulang kali Pak Andi tidak menghiraukan juga panggilan tersebut. Sebenarnya bukannya Pak Andi tidak mendengar panggilan tetangganya tersebut, akan tetapi ada hal yang mengganjal di hati pak Andi. Hingga akhirnya karena tidak tahan, akhirnya pak Andi menanggapi panggilan tersebut dengan nada jengkel ”tolong ya Pak Anto, panggil saya Pak Haji..., Pak Haji Andi...”.

Dalam sebuah pertemuan kecil, seorang tokoh masyarakat diminta untuk memberikan kata sambutan. Dengan suara yang dibuat seberat mungkin untuk menimbulkan kesan berwibawa orang tersebut memulai kata sambutannya dengan cara memperkenalkan diri “Kenalkan nama saya Bapak Prof. Dr. Ir. H. Fulan PhD, MA, Mpd, MBA, MM, HC,... etc”, dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar darimana beliau mendapatkan gelar tersebut dan suka duka yang dialaminya.

Dalam sebuah Majalah Tempo edisi pekan pertama bulan September 2005 diulas sebuah kisah tentang seekor kucing yang mendapatkan gelar doctor honoris causa, sebuah gelar tertinggi yang hanya diberikan pada orang-orang tertentu yang paling tidak sudah sekolah sampai strata III atau studi doktoral. Kisah ini bermula dari keisengan salah seorang teman dari Prof. Eko Budi Harjo yang memberikan nama pada kucingnya dan mendaftarkannya untuk mendapatkan gelar dari salah satu ”sekolah” jarak jauh penyedia gelar palsu. Setelah melengkapi berkas-berkas yang menjadi persyaratannya, tanpa di duga ternyata permohonan tersebut diterima dan kucing ini menjadi kucing petama dan satu-satunya yang mendapat gelar doctor honoris causa

Gelar bagi sebagian besar masyarakat kita dijadikan sebagai indikator martabat dan kehormatan seseorang. Semakin panjang dan semakin banyak maka dianggap seseorang tersebut adalah seorang yang hebat dalam bidang yang sesuai dengan gelar yang digunakannya. Karena dianggap sebagai pengungkit yang memiliki daya dongkrak terhadap strata kehidupan bermasyarakat, berbagai macam carapun ditempuh orang untuk sekedar mendapatkan gelar. Secara normal, gelar tersebut diperoleh dengan cara menyelesaikan pendidikan disebuah lembaga pendidikan formal. Namun saat ini gelarpun dapat diperoleh dengan cara yang lebih mudah, yaitu cukup membayarkan sejumlah uang tertentu, ikut serta dalam sebuah prosesi wisuda-wisudaan, foto bersama dengan menggunakan baju toga, dan gelarpun sudah dapat dicantumkan dalam setiap penulisan nama.

Hal yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah seseorang dengan gelar SE maka secara pasti dia adalah orang yang pakar dalam bidang ekonomi? Seseorang dengan gelar MH adalah seorang master dalam bidang hukum? Selanjutnya apakah seseorang dengan bejibun gelar seperti Prof. Dr. Ir. H. Fulan PhD, MA, Mpd, MBA, MM, HC adalah orang yang dapat kita sebut sebagai Resi Guru yang tahu segala-galanya?

Fakta dimasyarakat menunjukkan bahwa gelar akademik yang selalu dibanggakan orang dalam setiap penulisan dan penyebutan namanya seringkali tidak mewakili kualitas sebenarnya yang ada dalam dirinya. Seseorang yang telah lulus kuliah di Fakultas Ekonomi memiliki ijin dari kampusnya untuk menggunakan tambahan SE (Sarjana Ekonomi) dalam penulisan dan penyebutan namanya, akan tetapi hal tersebut bukan sebuah jaminan bahwa yang bersangkutan adalah orang yang pandai dalam bidang ekonomi. Bisa jadi ilmu ekonomi yang dipelajarinya dikampus hanya nempel ketika menghadapi ujian semester, setelah itu raib entah kemana. Mari kita bandingkan dengan seorang pengusaha yang meski hanya lulusan SD atau SMP namun sangat piawai dalam membangun bisnis dan membaca kondisi ekonomi secara mikro maupun makro. Meski tanpa gelar sebagai seorang sarjana Ekonomi dia memiliki pengetahuan dan keterampilan yang jauh diatas rata-rata orang-orang yang bangga dengan gelar SE-nya.

Ada yang menarik dari video klip lagu Nugie terbaru yang berjudul ”Lentera Hati”. Dalam klip tersebut secara bergantian di tampilkan orang-orang yang membawa sebuah kertas seukuran map yang bertuliskan nama mereka, latar belakang pendidikan, minat sebenarnya, dan pekerjaan. Sebagai contoh pada salah satu permukaan map tertulis ”Nama : Anton, Lulusan Sarjana Ekonomi” ; ketika kertas tersebut dibalik, yang tertulis adalah ”Sekarang kerja di dunia seni dan sangat menyukai bidang design grafis”. Dengan kata lain, jika ditanyakan kepada Anton bidang apa yang sebenarnya paling dikuasainya, maka dia akan mengatakan bahwa dia sangat menguasai design grafis dibandingkan dengan ilmu ekonomi. Jika demikian, bagaimana dengan gelar SE (Sarjana Ekonomi)-nya?

Dalam sebuah sidang pengukuhan seorang guru besar disebuah kampus negeri, seorang ketua senat membacakan seluk beluk penggunaan istilah guru besar maupun profesor. Disebutkan bahwa kata ”Profesor” merupakan gelar yang diberikan untuk jabatan guru besar. Gelar ini adalah gelar akademis yang hanya berlaku di lingkungan kampus dan selama seseorang tersebut masih aktif sebagai pejabat kampus. Apabila orang tersebut tidak lagi bertugas dikampus, maka secara otomatis penggunaan gelar tersebut tidak dibenarkan lagi. bagaimana dengan kenyataan di masyarakat kita?

Seorang motivator maupun pengusaha besar di Jakarta menambahkah di belakang namanya Gelar SDTT sehingga namanya menjadi Andrie Wongso SDTT. Anda mungkin bertanya dari mana gelar SDTT tersebut dan apa kepanjangannya. SDTT bukanlah gelar yang diperoleh dari kuliah di Universitas ataupun sekedar membeli ijazahnya seperti yang masih banyak terjadi dinegara kita. SDTT adalah gelar yang dibuatnya sendiri dan memiliki kepanjangan SDTT : Sekolah Dasar Tidak Tamat. Meski Andrie Wongso Sekolah dasarnya tidak tamat namun beliau termasuk tokoh pengusaha yang sukses dan dikenal sebagai Motivator Nomor satu di Indonesia. Demikian juga dengan penulis buku-buku best seller, Andrias Harefa WTS, WTS adalah gelar yang ditambahkannya sendiri dibelakang namanya sebagai identitas profesi yang dijalankannya, bukannya WTS sebagai Wanita Tuna Susila, tetapi WTS adalah Writer, Trainer, Speaker. Seorang teman pengusaha menambahkan gelar Ph.G dibelakang namanya yang artinya Pengusaha Gila.

Mungkin dalam benak anda bertanya-tanya tentang sah atau tidak sahnya penggunaan gelar seperti diatas. Menurut saya, meski gelar seperti SDTT, WTS, Ph.G, dan MW.M adalah gelar yang tidak umum dan tidak baku, akan tetapi penggunaannya merupakan hal yang sah-sah saja. Hingga saat ini saya belum mendengar peraturan yang yang mengatur tentang penggunaan gelar. Yang ada pada umumnya adalah pemberian gelar sebatas merupakan kesepakatan yang dibuat oleh sekelompok orang, lembaga, ataupun instansi atas seseorang. Sehingga tidak ada salahnya jika seseorang memberikan gelar tertentu untuk dirinya sendiri.

Penggunaan gelar sebagai atribut dalam penulisan dan pengucapan nama seharusnya betul-betul mencerminkan kemampuan atau kualitas yang ada dalam diri seseorang. Karena gelar sendiri mengandung pengertian ”menunjukkan”. Apa jadinya jika yang hendak ditunjukkan tidak sesuai dengan keadaan yang ada. Ketika seseorang kuliah, seharusnya yang menjadi tujuan utamanya adalah bagaimana menguasai ilmu dan praktek dalam bidang yang telah dipilihnya. Bukannya sekedar untuk memperoleh ijazah dan berbangga dengan menggunakan gelar sebagai bukti sebagai seorang sarjana.

Saran bagi Anda yang ingin menggunakan gelar akademik anda dalam penulisan maupun penyebutan nama, sebaiknya Anda pastikan terlebih dahulu apakah Anda pantas menggunakan gelar itu, atau minimal anda mampu mempertanggung jawabkan setiap konsekuensi dari pencantuman gelar tersebut.

Rabu, 10 September 2008

RAMADHAN BULAN "MENGASAH GERGAJI"

Setiap tahun pada bulan Ramadhan, umat islam melaksanakan ibadah puasa. Puasa berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Aupawasa yang artinya MENAHAN. Sama dengan arti Imsyak dalam bahasa Arab yang artinya juga MENAHAN.
Puasa sendiri telah menjadi bagian dari budaya manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan hampir setiap makhluk hidup pun melakukan puasa dengan caranya masing-masing. Ketika hendak menjadi seekor kupu-kupu (bermetamorfis), seekor ulat melakukan puasa selama beberapa hari dengan menjadi kepompong. Selama dalam proses pengeraman telur-telurnya, seekor ayam betina akan melakukan puasa selama beberapa minggu hingga telur-telur yang di eraminya menetas. Pada musim semi, pohon-pohon berpuasa dengan cara mengggugurkan daunnya.
Hikmah dan manfaat puasa telah banyak dibahas dalam berbagai macam buku, artikel, dan media cetak lainnya. Pada berbagai kesempatan ceramah, para mubaliq dan mubaliqah senantiasa menyampaikan pesan-pesan bertemakan puasa sepanjang bulan Ramadhan. Berbagai macam pula istilah atau julukan yang diberikan pada bulan Ramadhan. Ada yang menyebutnya sebagai bulan seribu bulan, bulan penuh berkah, bulan latihan, bulan pendidikan, bulan mensucikan diri, dan masih banyak lagi. Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan puasa dari sudut pandang psikologi perkembangan diri.
Saya ingin memberikan sebuah perumpamaan baru terkait dengan aktifitas puasa di bulan suci Ramadhan, yaitu Ramadhan sebagai bulan “mengasah gergaji”. Meminjam istilah Habits ke-7 dalam bukunya Stephen R Covey yang berjudul Seven Habits for Highty Effectively People. Ketika Anda berpuasa, secara sederhana anda melakukan aktivitas ibadah dengan cara menahan lapar dan dahaga. Namun secara lebih kompleks, yang terjadi adalah anda sedang berada dalam proses mempertajam kembali seluruh aspek potensi (gergaji) yang dikaruniakan oleh Allah SAW kepada Anda. Yaitu meliputi tubuh, pikiran, dan perasaan.
Selama sebelas bulan lamanya kita menggunakan ketiga potensi ini tanpa pernah berhenti. Tubuh kita setiap harinya tanpa kita sadari kita berikan makanan yang mengandung racun dan bersifat menyumbat pembuluh-pembuluh darah. Pikiran kita tak henti-hentinya kita gunakan berpikir keras tentang bagaimana cara mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Perasaan pun sepanjang hari terombang-ambing antara sedih, marah, kecewa, dan gembira dengan penuh nafsu. Akibatnya dikarenakan terlalu sering digunakan dan berinteraksi dengan kondisi yang kotor ketiga potensi ini mengalami pengkaratan dan semakin lama menjadi semakin tumpul.
Puasa adalah masa untuk menajamkan kembali ketiga potensi tersebut. Dengan menahan lapar dan dahaga, anda semakin menajamkan kembali daya tahan dan daya terjang tubuh (system imun) terhadap berbagai macam penyakit. Di saat berpuasa anda akan berada dalam kondisi kesadaran yang tinggi sehingga pikiran andapun lebih tajam dan focus dalam berpikir. Menahan emosi dan berbagai macam nafsu dunia menjadikan perasaan anda menjadi tajam dan peka. Selanjutnya kita akan membahas satu persatu proses asah gergaji terhadap ketiga potensi diri yang telah saya sebutkan diatas.
Yang pertama adalah mengasah gergaji tubuh. Ketika kita berpuasa menahan lapar dan dahaga semenjak waktu sahur hingga berbuka, dalam tubuh kita terjadi proses yang disebut autolisis. Pada kondisi normal, tubuh mengambil energi dari proses pencernaan bahan-bahan makanan yang kita makan. Dalam hal ini, bahan makanan tersebut di ubah menjadi glukosa. Ketika kita berpuasa, energi yang diperoleh tubuh bukan lagi dari proses pencernaan bahan makanan dari luar, akan tetapi berasal dari protein dan lemak yang ada di dalam tubuh.
Saat terjadi autolisis, tubuh melakukan penyusunan kembali sel-sel tubuh sebagaimana fitrahnya. Sel-sel tubuh yang rusak dan mati digantikan oleh sel tubuh yang baru. Selanjutnya sel-sel asing yang tidak seharusnya ada dimatikan dan dikeluarkan dari dalam tubuh. Hal ini menjadikan system imun dalam tubuh meningkat dan tubuh pun terasa lebih segar.
Yang Kedua adalah mengasah gergaji pikiran. Dalam keadaan normal, sehabis kita makan, sebagian besar energi yang dimiliki tubuh digunakan dalam proses pencernaan makanan. Semakin banyak unsur daging dan karbohidrat dalam makanan yang kita makan maka akan semakin lama proses pencernaannya dan semakin besar pula energi yang dibutuhkan. Inilah yang terjadi biasanya ketika kita menjelang tidur malam makan yang banyak dan keesokan paginya menemukan tubuh kita bukan dalam kondisi segar melainkan dalam keadaan lemas dan pegal-pegal. Saat berpuasa, energi yang digunakan untuk mencerna makanan sangat sedikit, sehingga sebagian besar energi dapat kita alokasikan pada pikiran.
Dengan energi yang mencukupi, pikiran kita menjadi lebih focus dan tajam. Gelombang otak di dominasi berada pada frekuensi alfa. Inilah kenapa para ulama terdahulu yang terbiasa berpuasa mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa dan begitu banyaknya. Berpuasa menjadikan otak kita mudah untuk menyerap informasi, menganalisa, dan menemukan ilmu baru. Inilah kenapa sering disebutkan bahwa dengan berpuasa seseorang dapat menjadi ahli hikmah.
Yang ketiga adalah mengasah gergaji emosi atau perasaan. Saat berpuasa, kita disunnahkan untuk banyak berzikir dan berdoa. Di dalam zikir dan doa yang kita ucapkan banyak terkandung kata-kata yang positif. Kata-kata positif ini secara bawah sadar akan menghasilkan pikiran yang positif pula. pikiran yang positif seelanjutnya akan menghasilkan emosi yang positif. Allah SWT mengingatkan kita bahwa hanya dengan berzikir kepada-Nyalah hati kita akan menjadi tenang.
Disamping itu, ketika berpuasa kita akan lebih bijak dalam melihat segala sesuatu. Ini dikarenakan kita tidak melihat dan menyikapi kejadian secara reaktif, melainkan secara responsive. Melalui shalat malam dan muhasabah yang dilakukan, kita melakukan reframing terhadap setiap pengalaman maupun kejadian buruk yang kita alami.
Selanjutnya apa kaitan berpuasa dengan kesuksesan. Dengan berpuasa secara sungguh-sungguh selama sebulan maka hasil akhirnya adalah anda dapat memiliki kembali potensi yang tajam yang di tunjukkan pula dengan munculnya kebiasan-kebiasaan seorang pemenang. Kebiasaan-kebiasaan itu antara lainnya adalah sikap jujur, pantang menyerah, ikhlas, sabar, tekun, dan penuh komitmen yang dilatih saat kita betul-betuul menjaga untuk tidak makan dan tidak minum semenjak sahut hingga berbuka.
Para psikolog dan pakar motivasi pengembangan diri menyebutkan bahwa untuk dapat melahirkan sebuah karakter baru, dibutuhkan pembiasaan terhadap sebuah sikap minimal selama 21 hari. Dengan pembiasaan yang dilakukan selama sebulan, insyaallah akan melahirkan seorang manusia baru yang penuh dengan karakter-karakter unggul yang baru. Dengan diri yang baru dan penuh sumber daya inilah yang nantinya siap untuk meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Salam Sukses